RERASAN PENDIDIKAN KHAS JOGJA DI UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA

Prof. Setyabudi Indartono (tengah) foto bersama tamu undangan dan peserta (Foto: Istimewa)

Merti Budaya | Yogyakarta - Fakultas Teknik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menggelar acara  Rerasan Rebo Wagen dengan tema "Pendidikan Khas Jogja" dibuka oleh Wakil Rektor I UST Nyi Dr. Yuli Prihatni, M.Pd, menampilkan narasumber Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D (Kepala LLDikti  Wilayah V DIY) di Ruang Ki Sarino Mangunpranoto, Gedung Fakultas Ekonomi UST, Jalan Kusumanegara 157 Yogyakarta, Rabu (14/10).

          Dipandu oleh Ki Zainul Faiszien Haza, CoEc.,  Prof Setyabudi mengemukan Yogyakarta sudah memiliki _branding_ pendidikan. Kita bedah kembali dan mempresentasikan pemikiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang selaras dengan Pendidikan Khas Kejogjaan, untuk membangun kehidupan Yogyakarta  yang lebih baik. 

         Selanjutnya mengutip pendapat Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dia menjelaskan bahwa Jarak antara ruang kuliah dan kampung itu secara fisik mungkin hanya beberapa ratus meter. Namun secara epistemologis jarak itu bisa jadi sangat jauh. Ilmu yang dipelajari di kelas, seringkali tidak singgah dahulu di kampung yang dilewatinya. Ia berangkat dari buku teks menuju ujian, menuju ijazah dan kadang tidak pernah benar-benar pulang ke kehidupan yang menghadapinya.

Sedangkan Pendidikan Khas Kejogjaan adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu, mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang: singgah dahulu pada nilai, sebelum bekerja di dunia.

          Lebih lanjut Prof. Setyabudi mengemukakan tantangan dari Gubernur DIY,  bahwa Jogja harus perlu berani menjadikan dirinya "laboratorium hidup". Kampung, pasar, sanggar, kawasan cagar budaya, hingga wilayah rawan bencana dapat menjadi ruang riset tentang Kejogjaan. Di samping itu harus berani menjawab persoalan aktual: kemiskinan, keberlanjutan ekonomi lokal, lingkungan, dan kualitas kehidupan masyarakat.

      Untuk berjiwa Jogja di era modern, Prof.Setyabudi Indartono menegaskan mahasiswa adalah agen perubahan dan budaya, bukan sekedar penerima pengetahuan (_knowledge receiver_) melainkan _agent of culture_,  mentransformasikan kearifan lokal, dapat membangun resiliensi moral serta akselerasi inovasi, mendedikasikan sains dan teknologi untuk kemajuan Yogyakarta.

          Nampak hadir Ki  Dr. Silvester Goridus Sukur, SS, MPd. (Wakil Rektor IV UST), Ki  Dr.Ir. Iskandar Yasin, ST, MT CIPM, IPM, ASEAN.Eng (Dekan Fak. Teknik  UST), Nyi Dr. Ambar Lukitaningsih, MM (Dekan Fakultas Ekonomi UST), para dosen serta 150 mahasiswa Fakultas Teknik UST. (RBW)