YOGYAKARTA: DARI DOA DI KEDATON HINGGA IDENTITAS DUNIA

Yogyakarta - Yogyakarta terkenal sebagai pusat batik. Masyarakat dunia mengakui. Bukan sekadar kain, batik adalah doa yang ditulis dengan malam.

Asal usul batik memang dimulai d Yogyakarta ari para leluhur Yogyakarta, tepatnya pada masa Kerajaan Mataram yang pusatnya di Pleret. Di sanalah para leluhur pertama kali mengenalkan canting.

Pada awalnya, batik menjadi kegiatan laku spiritual para putri-putri kedaton. Membatik bukanlah produksi, melainkan wirid dan tirakat Setiap titik dan goresan adalah doa.

Inilah makna sejati dari motif-motif agung itu:

- Sido Mukti: Doa agar yang memakai diberi kemakmuran dan kebahagiaan hidup

- Sido Luhur: Doa agar menjadi pribadi yang luhur budi pekertinya

- Truntum: Doa cinta kasih yang tumbuh kembali, seperti bintang yang menuntun

Maka batik bukan sekadar sandang. Batik adalah penanda identitas, status, dan doa yang melekat pada pemakainya. Inilah yang kemudian menjadikan batik sebagai identitas Yogyakarta, dan bahkan sebagai identitas nasional Indonesia.

Para pengrajin batik sejatinya bukan pekerja, mereka adalah pelaku seni tingkat tinggi. Seorang pembatik tulis butuh kesabaran berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu kain - tidak bisa dikejar mesin.

3 Oktober 2026, semangat leluhur itu hidup kembali di jantung Yogyakarta.

Dinas Koperasi dan UKM DIY menyelenggarakan "Simfoni Batik 1001 Pembatik Handal" di sepanjang Jalan Malioboro. Ribuan pembatik hadir dengan penuh semangat, berkumpul dalam satu irama, menggoreskan malam di atas kain mori.

Semangat ini semakin kuat karena Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi turut hadir dan mempromosikan langsung kegiatan ini. Kehadiran beliau adalah pangestu, bahwa batik tetap menjadi Saka Guru Kebudayaan DIY.

Saat ini batik memang hidup dalam dua dunia: dibuat oleh tangan-tangan terampil (batik tulis) dan diproduksi secara pabrikan (batik cap & printing). Wajar jika harga batik tulis jauh lebih mahal, karena di dalamnya ada doa, waktu, dan rasa yang tidak bisa dicetak mesin.

Dan hari ini, dari Malioboro, batik telah menjadi produk ekspor kebanggaan Indonesia ke seluruh dunia. Dari Pleret untuk Dunia.

Hamemayu Hayuning Bawana - Melestarikan Batik Berarti Melestarikan Doa Leluhur.