Merti Budaya |Karanganyar – Semangat pelestarian budaya ditunjukkan Karang Taruna Bhakti Taruna Dusun Munggur Etan, Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, melalui pagelaran Gumelaring Budaya, Minggu (18/10/2026). Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-27 organisasi kepemudaan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menjaga keberlangsungan seni tradisional sekaligus memperkuat kerukunan masyarakat.
Mengusung tema “Nguri-uri Kabudayan, Nyawiji ing Karukunan”, pagelaran ini menghadirkan kesenian Reog dan campursari bersama Janur Kuning. Rangkaian kegiatan diawali dengan malam tirakatan dan doa bersama pada Sabtu malam (17/10/2026), sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus persiapan menyambut acara puncak.
Ketua Panitia, Heri Pambuko, menjelaskan bahwa Gumelaring Budaya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar perayaan hari jadi organisasi.
“Kegiatan dari Karang Taruna Bhakti Taruna ini dalam rangka ulang tahun Karang Taruna yang ke-27. Kegiatannya Gumelaring Budaya, Nguri-uri Kabudayan, Nyawiji ing Karukunan. Filosofinya, seni menjadi bahasa, budaya menjadi jati diri, dan persatuan menjadi kekuatan,” ungkapnya.
Filosofi tersebut menjadi landasan bagi para pemuda untuk terus menghadirkan ruang berkesenian di tengah masyarakat. Seni dipandang sebagai bahasa yang mampu menyatukan berbagai kalangan, sementara budaya menjadi identitas yang perlu dijaga agar tidak tergerus perubahan zaman.
Apresiasi juga disampaikan Rafi Rahmad Istianto, yang akrab disapa Bro RT, selaku Ketua RT 05 di wilayah tempat kegiatan berlangsung. Ia menilai langkah Karang Taruna Bhakti Taruna dalam melestarikan kesenian tradisional merupakan upaya penting di tengah kehidupan modern.
“Apresiasi untuk Karang Taruna. Di zaman modern seperti sekarang, sebagian pemuda menganggap budaya sebagai sesuatu yang kuno. Namun, Karang Taruna Bhakti Taruna masih mampu melestarikannya melalui pagelaran seni Reog,” tuturnya.
Menurutnya, keterlibatan pemuda dalam pagelaran seni tradisional dapat menjadi jembatan agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai warisan budaya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Kepala Desa Munggur, Supar, A.Md. Atas nama pemerintah desa, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pemuda Karang Taruna Bhakti Taruna yang telah menyelenggarakan pagelaran budaya dalam rangka memperingati hari jadi organisasi yang ke-27.
“Saya atas nama Pemerintah Desa Munggur mengaturkan maturnuwun sanget dumateng adik-adik Karang Taruna Bhakti Taruna yang sudah mengadakan suatu kegiatan dalam rangka ulang tahun ke-27. Apa yang menjadi kegiatan adik-adik Karang Taruna ini luar biasa, mengadakan gelar budaya. Mudah-mudahan menjadikan silaturahmi, berkumpul bersama, juga hiburan bagi masyarakat Munggur dan sekitarnya,” ungkap Supar.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menghadirkan hiburan yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Munggur dan wilayah sekitarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Munggur, Helmi Setiawan, turut berharap kegiatan tersebut membawa manfaat bagi masyarakat, baik dalam mempererat kerukunan maupun menghidupkan perekonomian warga melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui Gumelaring Budaya, Karang Taruna Bhakti Taruna Munggur Etan menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan sendiri. Peringatan hari jadi ke-27 ini sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan peran pemuda sebagai penerus tradisi, penjaga identitas budaya, dan penggerak kerukunan masyarakat.
Semangat “Nguri-uri Kabudayan, Nyawiji ing Karukunan” diharapkan terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kontributor: Rafi Rahmad Istianto
