KARANGANYAR – Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kepedulian generasi muda terhadap kesenian tradisional menjadi hal yang patut diapresiasi. Salah satunya ditunjukkan Andika Fibriyanto, pemuda berusia 21 tahun asal Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, yang memilih terlibat langsung dalam menjaga warisan budaya melalui kelompok Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang.
Pemuda yang akrab disapa Memet tersebut kini dipercaya menjadi ketua kelompok kesenian yang berdiri sejak 2023. Bersama keluarga dan rekan-rekannya, ia berupaya mempertahankan eksistensi Jaran Bigar agar tetap dikenal dan diminati masyarakat.
Kelompok Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang bermarkas di Desa Munggur RT 03/RW 03, Kecamatan Mojogedang. Hingga saat ini, kelompok tersebut memiliki sekitar 30 anggota dengan frekuensi pementasan mencapai kurang lebih 12 kali dalam setahun.
Berawal dari Pecut Warisan Sang Kakek
Memet menuturkan, ketertarikannya berawal dari cerita sang kakek bernama Paidi. Ketika mengalami sakit, sang kakek mewariskan sebuah pecut kepada cucunya melalui Mbah Mbendol, seorang sesepuh Reog dari Punthuk, Mojodoyong, Kedawung, Sragen.
Pecut tersebut kemudian menjadi awal gagasan untuk membuat permainan jaranan. Berangkat dari cerita dan peninggalan keluarga itu, Memet bersama keluarganya mulai membeli perlengkapan jaranan sederhana.
Tidak berhenti di situ, mereka juga mengajak beberapa pemain Jaran Bigar dari kelompok lain untuk bergabung. Dari langkah sederhana tersebut, Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang mulai terbentuk hingga berkembang seperti sekarang.
Daya Tarik Jaran Bigar dan Potensi Ekonomi
Perjalanan kelompok ini bukan sekadar tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga menunjukkan bahwa kesenian daerah memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara serius.
Menurut Memet, tarif untuk sekali pementasan biasanya mencapai sekitar Rp4.500.000. Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan mereka juga terlihat ketika tampil di Desa Kutho, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.
Dalam kesempatan tersebut, kelompok Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang berhasil menjual hingga 250 tiket. Capaian ini menjadi salah satu bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat dan daya tarik tersendiri di tengah masyarakat.
Bagi kelompok ini, setiap pementasan bukan hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berkesenian, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya tradisional kepada masyarakat luas.
Keterbatasan Peralatan Tidak Menyurutkan Semangat
Meski terus berkembang, perjalanan Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang tidak lepas dari berbagai tantangan.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan peralatan musik pengiring. Saat ini, kelompok masih menggunakan gamelan seadanya, seperti kenong, kendang, dan gong dengan kualitas yang masih terbatas.
Mereka masih membutuhkan sejumlah perlengkapan tambahan, di antaranya saron, demung, drum, bedug, dan gong suwuk.
Selain persoalan peralatan, kesibukan anggota juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian anggota harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara lainnya masih menempuh pendidikan.
Kondisi tersebut membuat pengaturan waktu latihan bersama tidak selalu mudah. Namun, semangat untuk mempertahankan kesenian tradisional tetap menjadi alasan mereka untuk terus berjalan dan menerima undangan pementasan.
Terbuka untuk Kerja Sama dan Dukungan Masyarakat
Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang terbuka untuk menjalin kerja sama dengan masyarakat, komunitas, maupun penyelenggara acara yang ingin menghadirkan pertunjukan kesenian tradisional.
Keberadaan kelompok ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tidak melupakan akar budaya daerah. Sebab, pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kepedulian, kemauan belajar, dan keberanian untuk melanjutkan tradisi merupakan bagian penting dalam menjaga warisan leluhur.
Kisah Memet menjadi gambaran bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengambil peran dalam pelestarian kebudayaan. Berawal dari sebuah pecut peninggalan sang kakek, kini tumbuh kelompok kesenian dengan puluhan anggota yang memiliki tujuan sama, yakni menjaga agar seni tradisional tetap hidup.
Bagi Memet dan keluarga besar Seni Jaran Bigar Eyang Cagar Antang, melestarikan budaya bukan sekadar mempertahankan kesenian masa lalu, melainkan menjaga identitas dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.
PROFIL SENI JARAN BIGAR EYANG CAGAR ANTANG
- Ketua: Andika Fibriyanto (Memet)
- Usia ketua: 21 tahun
- Tahun berdiri: 2023
- Jumlah anggota: Sekitar 30 orang
- Frekuensi pentas: Sekitar 12 kali setahun
- Sekretariat: Desa Munggur RT 03/RW 03, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.
- Kontak person: 0882007558701
- Email: andikafibriyanto894@gmail.com
- TikTok: JB.EYANG CAGAR ANTANG
Biro Karanganyar: Rafi Rahmad Istianto