DARI YOGYAKARTA HINGGA AMSTERDAM, TALKSHOW BUDAYA MEDIA MERTI BUDAYA BANGKITKAN KESADARAN MERAWAT SILSILAH LELUHUR MATARAM

YOGYAKARTA – Kepedulian terhadap sejarah keluarga dan pelestarian silsilah leluhur Mataram mempertemukan peserta dari berbagai daerah, bahkan hingga Amsterdam, dalam Talkshow Budaya yang diselenggarakan Media Merti Budaya, Sabtu (7/11/2026).

Mengusung tema “Melacak & Merawat Silsilah Darah Dalem untuk Menjaga Marwah Leluhur Mataram”, kegiatan berlangsung di Ruang Rapat 5 DPRD Kota Yogyakarta, Jalan Timor, Yogyakarta.

Peserta hadir dari sejumlah daerah, di antaranya Yogyakarta, Semarang, Kebumen, Jakarta, serta peserta dari Amsterdam. Keberagaman asal peserta tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap sejarah leluhur dan identitas keluarga tidak hanya menjadi kepedulian masyarakat di sekitar Yogyakarta, tetapi juga menarik minat mereka yang berada di luar negeri.

Acara dibuka oleh Pemimpin Redaksi Media Merti Budaya, Ki. R. Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini menjadi salah satu ruang edukasi dan dialog budaya untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penelusuran nasab, pelestarian dokumen leluhur, serta sejarah keluarga.

TIGA PEMATERI BAHAS PELESTARIAN DARAH DALEM
Talkshow menghadirkan tiga pemateri yang memberikan perspektif mengenai silsilah, tradisi, dan pelestarian Darah Dalem.

K.R.M.T. Projokusumo, Pengageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman, menjelaskan berbagai persoalan yang berkaitan dengan Darah Dalem agar dapat diketahui dan dipahami masyarakat secara lebih luas.

“Untuk menjelaskan urusan-urusan yang berhubungan dengan Darah Dalem untuk diketahui secara umum,” ungkapnya.

Sementara itu, Raden Riyo Ismoyo Kusumo Wandowo, Carik Kawedanan Darah Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menyampaikan materi mengenai persyaratan yang perlu diketahui dalam upaya melestarikan Darah Dalem.

“menyampaikan mengenai syarat-syarat untuk melestarikan Darah Dalem,” demikian penjelasan materi yang disampaikan.

Adapun R.M.B. Ariyanto S. Hadinagoro, Pemangku Pamerti Budaya Catur Sagatra Mataram, menekankan pentingnya menyambungkan kembali mata rantai sejarah keluarga yang mungkin terputus antargenerasi.

“Nah, ini kegiatan ini salah satu ikhtiar untuk bagaimana bisa menghidupkan kembali obor yang terlanjur mati supaya bisa tersambung lagi silsilah berikutnya,” tuturnya.

Pesan tersebut menggambarkan bahwa penelusuran silsilah bukan sekadar mencatat nama-nama leluhur, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali pengetahuan sejarah keluarga agar dapat diwariskan kepada anak cucu.

KONSULTASI SERAT KEKANCINGAN JADI LAYANAN UNGGULAN
Tidak hanya menghadirkan diskusi, kegiatan ini juga membuka sesi konsultasi Serat Kekancingan dan dokumen lama peninggalan leluhur berbahasa Jawa, baik sebelum maupun sesudah talkshow.

Layanan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkonsultasi mengenai pembacaan dokumen, pemahaman isi Kekancingan, serta informasi teknis pengurusan dokumen nasab di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Salah satu peserta, Titiani dari Kebumen, mengungkapkan alasannya mengikuti kegiatan tersebut karena ingin menyusun silsilah keluarga sebagai bentuk pelestarian budaya bagi generasi penerus.

“Saya mengikuti acara ini karena ingin membuat silsilah, ibarat nguri-uri budaya buat anak cucu saya supaya tidak menghilangkan jejak para leluhur terdahulu,” ungkap Titiani.

Testimoni tersebut memperlihatkan bahwa kesadaran merawat silsilah memiliki makna penting bagi keluarga. Pengetahuan mengenai leluhur diharapkan tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus diwariskan kepada anak cucu.

Peserta lainnya, Aril Ilham Widiantoro dari Yogyakarta, menyampaikan bahwa konsultasi langsung dengan Pengageng Dalem Pakualaman memberikan pemahaman lebih jelas mengenai teknis pengurusan Kekancingan.

“Tadi diskusi dengan Pengageng Dalem Pakualaman semakin jelas untuk teknis pengurusan Kekancingan-Kekancingan di Keraton Yogyakarta Hadiningrat,” ujarnya.

MEMBANGUN KESADARAN SEJARAH DARI DOKUMEN KELUARGA
Kegiatan juga diisi sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi langsung dengan para pemateri. Tercatat empat peserta menyampaikan pertanyaan terkait materi yang dibahas.

Melalui forum tersebut, peserta memperoleh ruang untuk menggali informasi mengenai tata cara melacak silsilah secara benar, persyaratan pelestarian Darah Dalem, hingga prosedur pengurusan Kekancingan.

Media Merti Budaya berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran masyarakat untuk kembali memperhatikan dokumen peninggalan leluhur yang selama ini tersimpan dalam keluarga.

Sebab, di balik lembaran dokumen lama, surat Kekancingan, dan catatan berbahasa Jawa, terdapat jejak sejarah yang dapat membantu generasi sekarang memahami perjalanan keluarga dan asal-usul leluhurnya.

Kehadiran peserta dari berbagai kota hingga Amsterdam menjadi gambaran bahwa upaya mengenali leluhur dan merawat identitas sejarah keluarga memiliki relevansi lintas wilayah dan generasi.

Menghidupkan kembali silsilah berarti menyambungkan masa lalu dengan masa kini, agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak sejarah para leluhurnya.

MEDIA MERTI BUDAYA
Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya, Menghidupkan Sejarah.

Pewarta:
Rafi Rahmad Istianto - Karanganyar