MENINGKATKAN PEMAHAMAN TENTANG PIROLISIS, IKBY MANOKWARI STUDY BANDING DI BANK SAMPAH BANJARNEGARA

Ketua IKBY Manokwari bersama staf BSB, Sabtu, 31-10-2026.

Kunjungan ketua Ikatan Keluarga Besar Yogyakarta (IKBY) Manokwari yang juga sekaligus sebagai koordinator wilayah untuk Manokwari dari Abdi Budaya Pamerti Budaya Catur Sagatra Mataram, Muhammad Subagyo Sugiarto, ke Bank Sampah Banjarnegara (BSB) terlaksana pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Diterima oleh Muntoha dari BSB, diskusi terkait pirolisis dan perjalanan sejarah BSB yang berawal dari kegelisahan komunitas pencinta alam terhadap banyaknya sampah liar yang beredar di masyarakat, berlangsung hangat.

"Modal awal dari Bp. Budi Trisno Aji, baik berupa tanah maupun pendanaan awal hingga puluhan juta, dimulai sejak tahun 2014 diawali dengan membentuk bank sampah. Seiring berjalannya waktu,kami melihat lingkungan sekitar kami yang berantakan dan tumpukan sampah dimana-mana sehingga kami sosialisasikan ke warga agar sampah anorganik berupa plastik dapat dikumpulkan dan dijual kepada bank sampah kami. Masalah baru timbul dengan adanya pergeseran mainset warga menjadi bagaimana caranya agar timbangannya berat telah menyebabkan kecurangan-kecurangan terjadi. Karena niat kami adalah peduli lingkungan maka kami mencoba melakukan pengolahan terhadap sampah yang sudah tertampung di kami tersebut. Saat itu kami masih berfokus untuk mengolah sampah plastik yang high value yang kami tampung. Tetapi dikarenakan ketidaksesuaian cost yang kami keluarkan dengan harga sampah olahan saat kami menjual ke perusahaan-perusahaan pengolahan biji plastik sedangkan sisa sampah plastik yang telah menggunung di tempat kami kurang lebih sekitar 7 ton. Dari sini timbul kegalauan kami tentang cara penanganan sisa sampah plastik ini sehingga kami memutuskan untuk melakukan pengolahan lanjutan terhadap sisa sampah plastik tersebut. Ketika kami buang ke TPA, kami malu hati sehingga di tahun 2018 kami berinisiatif untuk melakukan pengolahan sampah dengan menerapkan teknologi. Ujicoba secara mandiri kemudian dilakukan setelah memilih teknologi yang dianggap tepat. Karena kami berdiri secara mandiri, tentunya kami berpikir bagaimana cara selain bisa mengolah sampah tersebut juga menghasilkan profit untuk kami. Karena kami tidak ada basic sama sekali terkait Pirolisis ini, maka pada saat itu kami hanya meniru tutorial-tutorial dari YouTube yang kami jadikan referensi yang ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Jika hanya sebatas untuk edukasi memang bisa tetapi jika untuk produksi tidaklah mungkin. Sedangkan kami sudah susah payah mengumpulkan modal dan membuat peralatan pirolisis. Tetapi kami tetap berupaya melakukan pengembangan sehingga di tahun 2019 kami baru bisa melakukan 1 step tetapi kemudian sempat terhenti akibat adanya pandemi covid, Karena adanya pembatasan interaksi ini, maka kami memanfaatkan waktu untuk riset sebagai upaya perbaikan terhadap peralatan yang kami miliki agar bisa mendapatkan efisiensi yang optimal. Tentunya ini tidak mudah,karena tutorial-tutorial yang ada di YouTube tersebut beberapa berbahaya bahkan pernah kami mengalami ledakan meski tidak mematikan terhadap peralatan kami. Kemudian di tahun 2021 akhir, kami muncul kembali dengan inovasi terbaru. Tetapi untuk menuju profit masih sangat tidak mungkin karena hasilnya masih sama seperti yang lain yaitu output berupa jel sehingga kami masih harus masukkan ke tabung lagi dan proses lagi barulah jadi cairan. Saat itu kami berpikir bahwa tidak mungkin kami kerja 2 kali dalam waktu 2 hari hanya untuk menghasilkan 1 produk sehingga di sekitar akhir 2022 kami melakukan step ke 3 yaitu menggabungkan 2 proses tadi menjadi 1 proses dengan outputnya berupa cairan. Akan tetapi minyak yang dihasilkan dari pirolisis tidak bisa langsung digunakan untuk mesin-mesin diesel karena di situ masih terdapat zat-zat berbahaya misalnya zat asam, sulfur, sedimentasi sehingga ada sekitar 17 parameter yang katanya harus dinetralisasi. Akan tetapi karena saat itu kami belum memiliki teknologi untuk menetralkan itu sedangkan kami sudah terdesak untuk pemenuhan kebutuhan operasional sehingga saat itu kami menjual minyak hasil pirolisis tersebut ke warga sebagai minyak tanah. Karena minyak tanah tidak lagi dipergunakan oleh warga maka minyak tersebut tidak laku. Saat itu kami sempat hampir putus asa karena minyak sudah dihasilkan tapi dijual tidak bisa sedangkan diterapkan di mesin tidak mungkin. Mesin hidup tetapi rusak pasti. Saat itu kami yang juga bermain medsos untuk mempromosikan kegiatan kami kemudian ketahuan oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sehingga kemudian perwakilan BRIN melakukan kunjungan dan kemudian diberitahukan kepada kami bahwa masih perlu dilakukan 1 proses lagi agar minyak yang dihasilkan kami seperti standard pemerintah. Itu terjadi di akhir tahun 2022. Dari situlah kami berkoordinasi dan berkonsultasi dengan beberapa ahli dari beberapa universitas sehingga kami dapatkan informasi bahwa harus pakai katalis. Saat itu kami menggunakan zeolit sebagai katalis. Tetapi setelah sekitar 2 Minggu hasil minyak kami kembali keruh, maka kami berinovasi dengan memanfaatkan kekayaan alam Banjarnegara yaitu tanah dan berhasil. Kemudian kami kontak kembali BRIN dan BRIN kembali berkunjung untuk mengambil sampel dan membawa sampel ke Serpong untuk diuji oleh Lemigas.", Ucap Muntoha.

"Hasil dari pengujian Lemigas ternyata minyak hasil pirolisis kami telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Pemerintah.", Sambungnya.

Muntoha juga menjelaskan bahwa awal tahun 2023, pihak BRIN bersedia melakukan pendampingan untuk sisi akademisinya hingga tahun 2027.

Peninjauan proses produksi PETASOL di BSB, Sabtu, 31-10-2026.


Seperti diketahui, IKBY Manokwari saat ini mulai menggencarkan kampanye lingkungan sebagai bagian dari program kerjanya mendampingi program budaya yang sudah ada dan berjalan. Terkait dengan program budaya, ada program latihan gamelan yang rutin dilaksanakan tiap Sabtu. Adapun terkait dengan lingkungan, ada program GAMELAN (Gerakan Melestarikan Lingkungan Berkelanjutan) yang fokus di distribusi bibit buah secara gratis kepada masyarakat yang memenuhi syarat, reboisasi, dan pengolahan sampah organik. Sedangkan terkait dengan sampah anorganik, IKBY Manokwari menginisiasi WAYANG (Warga Sayang Lingkungan) dan CANDI (Creative and Design Industries). Wayang sebagai wadah untuk mengolah sampah anorganik berupa plastik low value dengan teknologi pirolisis. Adapun CANDI sebagai wadah untuk mengolah sampah anorganik berupa plastik yang akan bernilai lebih tinggi daripada diproses melalui teknologi pirolisis.


(Kontributor : Sugiarto)