Menghidupkan Legenda Jawa Tengah: Dari Ki Ageng Selo hingga Rawa Pening, Generasi Muda Lestarikan Cerita Rakyat

KENDAL, MERTI BUDAYA – Cerita rakyat merupakan bagian penting dari warisan budaya yang merekam ingatan kolektif, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital, upaya mengenalkan kembali legenda daerah kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Nusantara.

Semangat tersebut tercermin dalam Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 tingkat Jawa Tengah yang mengangkat tema “Menghidupkan Legenda Jawa Tengah, Menginspirasi Masa Depan”. Melalui seni mendongeng atau storytelling, peserta diajak memperkenalkan kekayaan cerita rakyat kepada khalayak yang lebih luas.

Salah satu peserta yang turut berpartisipasi ialah Kanaya Olivian, siswi SMP Negeri 3 Patean, Kabupaten Kendal. Dalam ajang tersebut, Kanaya membawakan cerita berjudul “Ki Ageng Selo Sang Penangkap Petir”, sebuah legenda yang dikenal dalam tradisi lisan masyarakat Jawa.

Ki Ageng Selo dan Kekayaan Legenda Jawa

Nama Ki Ageng Selo lekat dengan cerita rakyat Jawa tentang sosok yang dikisahkan mampu menangkap petir. Dalam versi legenda yang populer, petir tersebut digambarkan berwujud naga. Kisah ini menjadi salah satu cerita yang diwariskan secara turun-temurun dan terus dikenal dalam khazanah budaya Jawa.

Selain Ki Ageng Selo, Jawa Tengah juga memiliki beragam cerita rakyat yang hidup dalam ingatan masyarakat. Di antaranya Legenda Rawa Pening yang berkaitan dengan kisah Baru Klinthing, cerita Jaka Linglung dan asal-usul Bledug Kuwu, kisah Jaka Tingkir, legenda Aji Saka, Panji Semirang, hingga Keong Emas.

Setiap cerita memiliki latar, tokoh, dan alur yang berbeda. Sebagian berkaitan dengan asal-usul suatu tempat, sebagian lain mengisahkan perjalanan tokoh legendaris, konflik kehidupan, maupun hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Cerita-cerita tersebut tidak hanya menarik sebagai hiburan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah lokal, tradisi lisan, dan cara masyarakat pada masa lalu memaknai kehidupan. Karena diwariskan melalui beragam versi, legenda juga perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi tutur yang dapat memiliki perbedaan cerita di setiap daerah.

Mendongeng Menjadi Jembatan Pelestarian Budaya

Salah satu tantangan pelestarian cerita rakyat ialah bagaimana membuatnya tetap menarik bagi anak-anak dan generasi muda. Seni mendongeng menjadi salah satu cara untuk menjawab tantangan tersebut.

Melalui storytelling, cerita disampaikan dengan penghayatan, intonasi, ekspresi, dan penguasaan alur. Pendekatan ini memungkinkan generasi muda tidak hanya mengenal judul legenda, tetapi juga belajar menyampaikan kembali kisah yang mereka bawakan.

Di sisi lain, penggunaan media digital membuat cerita rakyat dapat menjangkau penonton di luar lingkungan sekolah maupun daerah asalnya. Video mendongeng yang dibagikan melalui media sosial menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kembali cerita tradisional dalam format yang dekat dengan kehidupan generasi sekarang.

Keikutsertaan Kanaya Olivian dalam Festival Suara Nusantara 2026 menjadi bagian dari upaya tersebut. Dengan membawakan legenda Ki Ageng Selo, ia turut mengambil bagian dalam ruang kreatif yang mempertemukan pendidikan, seni bertutur, dan pelestarian budaya.

Festival Suara Nusantara 2026 Perpanjang Pendaftaran

Berdasarkan materi publikasi penyelenggara melalui akun Instagram @suaranusantara.fest, Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum di Jawa Tengah.

Kompetisi ini terbagi menjadi empat kategori, yaitu Benih Nusantara untuk jenjang SD/MI, Tunas Nusantara untuk SMP/MTs, Kuntum Nusantara untuk SMA/SMK/MA, serta Ranting Nusantara untuk mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.

Peserta mengikuti seleksi melalui video mendongeng yang diunggah dalam format Instagram Reels dengan durasi maksimal tiga menit. Pengunggahan video harus mengikuti ketentuan panitia, termasuk penandaan akun dan penggunaan tagar resmi.

Informasi terbaru yang disampaikan penyelenggara menyebutkan bahwa pendaftaran dan pengunggahan video diperpanjang hingga 10 November 2026.

Adapun jadwal tahapan yang tercantum dalam materi publikasi meliputi:

- 10 September–10 November 2026: Pendaftaran dan pengunggahan video.
- 11–14 November 2026: Babak penyisihan.
- 15 November 2026: Pengumuman peserta semifinal.
- 21 November 2026: Penampilan semifinal.
- 22 November 2026: Penampilan final.

Penyelenggara juga menginformasikan penghargaan berupa trofi, sertifikat, dan uang pembinaan bagi para pemenang. Besaran yang tercantum dalam materi publikasi adalah Rp5 juta untuk juara pertama, Rp3 juta untuk juara kedua, dan Rp2 juta untuk juara ketiga.

Guru Ajak Masyarakat Memberikan Dukungan Positif

Wurdianingsih, S.Pd., guru SMP Negeri 3 Patean, turut mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada Kanaya melalui video lomba yang diunggah di Instagram.

“Mohon like dan komen positif nggeh, makasih ya bantuannya. Itu lomba storytelling,” ujar Wurdianingsih, S.Pd.

Ajakan tersebut menjadi bentuk dukungan sederhana bagi pelajar yang berpartisipasi dalam kegiatan seni dan budaya. Apresiasi melalui tanda suka dan komentar positif diharapkan dapat menambah semangat peserta untuk terus belajar, berani tampil, serta mengembangkan kemampuan bertutur.

Masyarakat dapat menyaksikan video Kanaya Olivian melalui tautan berikut:

Video lomba Kanaya Olivian:
https://www.instagram.com/reel/De3j63LTqdu/

Pembaca dapat membuka tautan tersebut, menyaksikan penampilannya, memberikan tanda suka, serta menuliskan komentar positif yang membangun.

Menjaga Cerita Leluhur agar Tetap Hidup

Pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Mengenalkan legenda kepada anak-anak, mendongeng di sekolah, membaca kembali cerita rakyat, dan membagikan kisah tradisional melalui media digital juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.

Cerita rakyat akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat apabila terus dipelajari, diceritakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam proses tersebut, sekolah, guru, keluarga, komunitas budaya, dan media memiliki peran yang saling melengkapi.

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan semangat berkesenian dengan upaya pelestarian budaya. Partisipasi Kanaya Olivian melalui legenda Ki Ageng Selo memperlihatkan bagaimana pelajar dapat ikut memperkenalkan kembali cerita tradisional kepada masyarakat.

Pada akhirnya, menjaga cerita rakyat bukan sekadar mempertahankan kisah masa lalu, melainkan juga merawat ingatan budaya agar tetap dikenal dan dimaknai oleh generasi masa depan.

Penulis: Rafi Rahmad Istianto
Media Merti Budaya | Biro Karanganyar